KIARA: Prestasi SBY Menanggulangi Bencana Buruk
KIARA: Prestasi SBY Menanggulangi Bencana Buruk
Siaran Pers
Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan
www.kiara.or.id
Jakarta, 6 Februari 2012. Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan mempertanyakan komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam melindungi warga nelayan dari bencana cuaca ekstrem. Meski pertengahan tahun 2011, Presiden SBY menerima penghargaan Global Champion for Disaster Risk Reduction dari PBB, dan menyatakan untuk terus berupaya mengembangkan kebijakan mengurangi dampak bencana. Di lapangan, bencana cuaca ekstrem yang memperburuk kualitas hidup dan penghidupan 500 ribu keluarga nelayan selama satu bulan terakhir nyaris terabaikan.
Sekretaris Jenderal KIARA M. Riza Damanik menegaskan, “Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seharusnya malu dengan penghargaan yang diterimanya, karena tidak dapat menorehkan prestasi nyata dalam penanggulangan bencana di pesisir dan pulau-pulau kecil. Buktinya, pada awal tahun ini, gelombang tinggi berlangsung hampir dua bulan dan tidak ada respon konkrit. Pemerintah daerah juga lebih banyak menunggu. Situasi ini membuat mereka (nelayan) terdesak, ada yang nekat melaut, mencari pinjaman dan menjual apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidup, bahkan beralih profesi. Sikap pemerintah yang meremehkan situasi ini perlu dihentikan.”
Menurut Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono melalui info media yang dimuat pada situs resmi (HYPERLINK: www.menkokesra.go.id/content/menko-kesra-minta-pemda-siap-hadapi-bencana), bahwa sejak tahun lalu, bencana akibat angin puting beliung telah melanda 35 kabupaten/ kota di Jawa dan Bali. Bencana itu telah menelan korban 14 orang meninggal dunia, 60 orang luka, dan 2.364 rumah rusak berat. Temuan resmi tersebut membuktikan keutamaan menyikapi cuaca ekstrem sebagai bencana nasional. Terlebih nelayan Indonesia jumlahnya terus menurun. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat 4 juta jiwa nelayan tahun 2003, sekarang tinggal hanya sekitar 2,7 juta jiwa. Selain beralih profesi, penyebab lainnya adalah peningkatan 2 kali lipat jumlah nelayan yang hilang dan meninggal dunia di laut dari tahun 2010 ke tahun 2011, yakni bertambah 81 jiwa (lihat Tabel).
Tabel. Jumlah Nelayan Hilang dan Meninggal Dunia (2010-2011)
Tahun Jumlah (jiwa)
2010 (Januari-September) 68
2011 (Januari-pertengahan Desember) 149
Sumber: KIARA, Desember 2011
Dengan mengemban penghargaan PBB tersebut, sepatutnya Pemerintah Indonesia berfokus pada pemantapan penanggulangan bencana di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, serta memperbesar perlindungan terhadap masyarakat rentan.
“KIARA telah mengirimkan surat kepada Presiden SBY pada tanggal 2 Februari 2012, untuk segera menetapkan cuaca ekstrem sebagai Bencana Nasional. Hal ini diperlukan agar mobilisasi sumberdaya untuk melindungi keluarga nelayan yang terkena bencana cuaca ekstrem dapat terselenggara dengan cepat dan optimal,” pungkas Riza.
Informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:
Sekretaris Jenderal KIARA M. Riza Damanik
HP 0818 773 515
Nelayan Tarakan, Kalimantan Timur, Rustan
HP 0813 464 990 11
Nelayan Serang, Banten, Kholid
HP 0878 1144 646
Nelayan Langkat, Sumatra Utara, Tajruddin Hasibuan
HP 0813 709 31995
Nelayan Marunda, Jakarta Utara, Tiarom
HP 0878 790 88179
Nelayan Kendal, Jawa Tengah, Sugeng Triyantono
HP 0813 80945 80
Nelayan Gresik, Jawa Timur, Sugeng
HP 0812 314 64979
Nelayan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Amin Abdullah
HP 0818 0578 5720




Comments (0)