Apa yang paling kita ingat tentang lhabibah_marundaaut? Pasir, debur ombak, perahu-perahu nelayan, dan ingatan tentang birunya lautan Indonesia. Lalu ada nelayan menjaring ikan, perempuan nelayan yang menjemur ikan dengan menggunakan alat berbahan dasar bambu. Ada bau amis dan terik yang menyeruak di tengah hiruk-pikuk kampung nelayan. Itulah segelintir kenangan tentang laut Jakarta dan kampung nelayan.

Kini, di Jakarta hampir tidak ada kenangan yang tersisa tentang laut. Jika kita ingin melihat laut, kita harus mengeluarkan biaya untuk bisa menikmati laut di kawasan Ancol. Pun jika ada pantai publik, kawasannya terbilang cukup jauh dari pinggir jalan dan hanya menyisakan garis pantai sepanjang 500 meter dari 3 kilometer luas pantai publik yang pernah direncanakan oleh Walikota Jakarta Utara Effendi Anas pada tahun 2008.
Pertanyaannya, di mana para nelayan Teluk Jakarta sekarang?

Pembangunan merusak

Habibah, perempuan nelayan berusia 50 tahun harus menahan nafasnya sembari menjaga karung kumal yang berisi kerang hijau agar tidak tersenggol truk yang melintasi jalan sepanjang Banjir Kanal Timur (BKT). Gobang (51), suaminya menurunkan karung dari pangkuannya.

Habibah adalah seorang istri nelayan Marunda yang telah dikaruniai lima orang anak. Habibah pun anak seorang nelayan yang dulu tinggal di Kampung Marunda Lama, kampung nelayan yang dekat dengan Cagar Budaya Rumah dan Masjid si Pitung.

Di tahun 1980, ketika masa pemerintahan Orde Baru sedang gencar melakukan pembangunan, Marunda pun terkena imbasnya. Habibah dan keluarganya dipaksa pindah dari Marunda Lama yang disulap menjadi Kawasan Berikat Nusantara (KBN).

Kenangan akan kampung pesisir di Marunda Lama masih melekat di dalam ingatan Habibah, semua nelayan yang pernah tinggal di Marunda Lama berpencar ke segala penjuru pesisir Jakarta. Habibah dan keluarganya memilih menetap di  Marunda Kepu, Kecamatan Cilincing, Kelurahan Marunda Baru, Jakarta Utara.

Marunda berbeda 180 derajat, di mana bangunan beton, pasir, debu, limbah dan seng berdiri kokoh. Berbanding terbalik dengan Kampung Marunda Kepu yang kumuh, becek dan lusuh.

“Dulu nenek saya cerita, ada monyet sebesar kebo. Mangrovenya tinggi-tinggi, ikannya banyak banget. Lah! kalau sekarang, mana ada ikan lagi, pada  abis kena limbah!” ujar Habibah sembari tersenyum menceritakan kenangan yang masih tersisa.

Terlebih lagi proyek reklamasi membuat kondisi semakin buruk lagi. Habibah pun menatap nanar ke lautnya, di mana dulu jutaan mangrove pernah ditebang habis. Kini nelayan Marunda Kepu terus berjuang melawan kemiskinan. Pembangunan tidak menyisakan apapun bagi nelayan, kecuali limbah dan kejamnya kenyataan bahwa mereka terampas dari ruang hidupnya.

Berjuang Bersama

Habibah yang tidak tamat sekolah pernah minder atau tidak percaya diri jika harus bercerita tentang kampungnya. Kini ia berubah. Ia terdorong untuk tampil dan berbicara di depan publik menyuarakan fakta yang terjadi di Kampung Nelayan Marunda Kepu.

Si Pitung adalah idola yang dibanggakan oleh Habibah. Perjuangannya melawan kemiskinan, penjajahan dan kekerasan terhadap kaum pribumi telah begitu membekas di hati Habibah.

“Kalau semuanya diem, siapa yang mau cerita soal keadaan nelayan di sini. Saya mikir sampe pusing, akhirnya saya bilang sama suami kalau mau ngajak nelayan di sini buat ngebenerin Marunda. Saya kumpulin ibu-ibu sama bapak-bapak kita ngobrol gimana ini caranya biar lebih baik hidup kita,” ujar Habibah bersemangat.

Pada tahun 2011, Habibah mulai melibatkan perempuan nelayan dan nelayan dalam beberapa pelatihan bersama KIARA dan PPNI (Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia). Habibah pun tidak pernah lelah menyuarakan aspirasinya bersama perempuan nelayan dan nelayan. Atas dedikasinya, pada bulan Maret 2013 lalu, Habibah mendapatkan penghargaan sebagai salah satu perempuan pejuang pangan yang di selenggarakan oleh Oxfam Indoensia bersama dengan Aliansi untuk Desa Sejahtera (ADS).

Habibah tidak pernah kenal lelah menyuarakan aspirasi warga Marunda Kepu. Harapannya sederhana, Marunda Kepu menjadi desa pesisir yang terbebas dari reklamasi dan terbebas limbah.

Mekar Baru

Ia gerakkan 30 perempuan nelayan dan nelayan untuk melakukan perubahan melalui Kelompok Mekar Baru, nama kelompok yang digagas oleh Habibah.  Pemilihan nama Mekar Baru didasarkan pada harapan nelayan Marunda Kepu, seperti bunga yang semakin rekah, memberi suasana dan pengharapan kehidupan yang baru.

Kampung Nelayan Marunda Kepu memiliki potensi alam yang dapat dimanfaatkan untuk menambah pendapatan ekonomi keluarga. Salah satunya adalah cangkang kerang. Di dalam Kelompok Mekar Baru, cangkang kerang diolah menjadi barang-barang yang mempunyai fungsi dan bernilai ekonomi tinggi.

“Kita bikin gantungan kunci, tempat tisu, piring, banyak banget dah. Hasilnya lumayan untuk membantu keluarga-keluarga kami,” cerita Habibah mewakili kelompoknya.

Akses pasar untuk penjualan produk Kelompok Mekar Baru masih menjadi kendala. “Kami berharap dapat menemukan pasar dan pelanggan produk-produk olahan Mekar Baru. Dan lebih penting lagi, kami membutuhkan lingkungan yang bersih dan bebas reklamasi”, kata Habibah mengakhiri obrolan.
Kini perempuan nelayan Marunda Kepu tengah bersemangat dengan konsep perjuangan Mekar Baru.*** (SH)

%d blogger menyukai ini: