Kampanye Selamatkan Lingkungan Makin Disuarakan

Berbagai kalangan unjuk kepedulian untuk menyelamatkan lingkungan pesisir demi keberlanjutan. Salah satunya, menolak reklamasi Teluk Benoa di Bali.

Teluk Benoa di Bali adalah salah satu dari sejumlah wilayah yang memiliki fungsi ekologis tinggi, harus diselamatkan untuk hari ini dan generasi yang akan datang.

Proyek Teluk Benoa yang dilakukan oleh PT TWBI yang akan menghabiskan kawasan hutan mangrove dengan luas mencapai 838 hektare. Bencana banjir dan abrasi pantaiakan setiap saat mengancam warga jikareklamasi pantai tetap dilakukan. (Baca juga di dalam: Pulau Pudut, Habitat Penyu yang Nyaris Hilang)

Koordinator Pendidikan dan Penguatan Jaringan KIARA, Selamet Daroyni, menyatakan di Jakarta (23/1) bahwa proyek reklamasi yang ada di berbagai Indonesia merupakan bentuk kemudahan bagi pengusaha untuk menguasai lahan di pesisir dan memberikan dampak bagi penghidupan nelayan.

Serta semakin memperparah kota-kota pesisir karena hilangnya daya dukung lingkungan yang berakibat pada bencana banjir.

I Wayan ‘Gendo’ Suardana dari ForBALI  mengatakan bahwa selama ini penyelamatan Teluk Benoa bukan hanya disuarakan oleh aktivis lingkungan hidup. Namun seluruh elemen masyarakat Bali, di antaranya para seniman dan musisi yang peduli dengan kondisi lingkungan hidup di Bali dan Indonesia.

Jerinx SID (Superman is Dead), Gembul Navicula, Coki Netral, Sarasdewi merupakan seniman-seniman yang mendukung penyelamatan lingkungan hidup di Bali. Lagu Tolak Reklamasi diciptakan dan disuarakan oleh para musisi ini bersama dengan aktivis. Panggung-panggung solidaritas dari musisi adalah salah satu bukti kepedulian terhadap lingkungan yang begitu besar.

Coki dari grup band Netral sebagai musisi yang menyuarakan penyelamatan Teluk Benoa, menyatakan bahwa penyelamatan Teluk Benoa memang harus disuarakan oleh lebih banyak lagi. “Sebab proyek reklamasi Teluk Benoa bukan hanya mengancam lingkungan hidup—kawasan konservasi dan biota laut yang ada di dalamnya—melainkan pula penghancuran nilai sosial dan kultural masyarakat di Bali.”

“Sampai kapan pun dengan sekuat tenaga kami akan terus berupaya menyelamatkan Teluk Benoa dan lingkungan hidup di Indonesia, dan perjuangan inilah yang akan kami sampaikan kepada anak cucu kami,” tambah Jerinx.

Nur Hidayati, Kepala Departemen Advokasi dan Kampanye Walhi mengatakan bahwa keterlibatan musisi dan para seniman dalam setiap advokasi dan kampanye penyelamatan lingkungan hidup bersama Walhi, menandakan bahwa memang isu lingkungan hidup adalah isu semua orang karena ini menyangkut soal keberlanjutan.

Proyek reklamasi pantai bukan hanya terjadi di Teluk Benoa, tetapi daerah lain seperti Jakarta, Manado, Kendari, dan Palu. Banjir di Jakarta dan Manado, Sulut harusnya bisa menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah untuk tidak melanjutkan proyek reklamasi.

Situasi bencana ekologis di berbagai daerah di Indonesia juga sekaligus dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk terus menyuarakan penyelamatan lingkungan hidup.“Kami percaya bahwa dukungan kuat dari masyarakat akan menjadi warning agar pemerintah dan pemilik modal besar tidak seenaknya berinvestasi dan merusak lingkungan sumber kehidupan rakyat,” kata Nur.

Kerusakan pesisir Indonesia yang kian masif dan meluas berujung pada berbagai bencana lingkungan, terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir, dengan memakan korban jiwa yang begitu besar dan menimbulkan banyak kerugian lain.

(Gloria Samantha)

Sumber: http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/01/kampanye-selamatkan-lingkungan-makin-disuarakan

%d blogger menyukai ini: