KELAUTAN: Anggaran Dipotong 20 Persen

JAKARTA, KOMPAS – Keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kelautan dan perikanan semakin mundur. Hal itu tercermin dari pengurangan alokasi anggaran Negara terhadap sektor kelautan dan perikanan hingga 20 persen.

Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) Abdul Halim di Jakarta, Selasa (3/9), mengemukakan, visi pembangunan kelautan dan perikanan serta gagasan ekonomi biru berpotensi tidak bisa diterapkan maksimal.

Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2014, anggaran belanja Kementerian Kelautan dan Perikanan ditetapkan Rp. 5,601 triliun. Anggaran itu menurun 20 persen jika dibandingkan dengan APBN Perubahan 2013 yang sebesar Rp. 6,979 triliun.
Penurunan anggaran kelautan dan perikanan berlangsung ketika total anggaran belanja Negara dinaikan 5,2 persen, yakni Rp. 1.816,7 triliun atau naik 5,2 persen dari pagu belanja Negara pada APBN-P 2013 yang sebesar 6,979 triliun.

“Pengurangan anggaran sektor kelautan dan perikanan mencerminkan tiadanya visi kelautan dalam pembangunan Indonesia meski 70% wilayahnya adalah laut,” ujarnya.

Halim menambahkan, tahun depan anggaran Kementerian Kelautan dan Perikanan hanya 0,308 dari total rencana belanja Negara sebesar Rp. 1.816,7 triliun. Dengan anggaran yang minim, upaya penyejahteraan masyarakat nelayan tradisional akan tersendat.

Apalagi, tambah Halim, tahun ini porsi anggaran Kementerian Kelautan dan Perikanan diarahkan untuk peningkatan produksi, tetapi belum menyentuh peningkatan kesejahteraan nelayan. Program tahun ini dipusatkan, antara lain, pada pengembangan dan pengelolaan perikanan tangkap (24,02 persen) dan pengembangan dan pengelolaan perikanan budidaya (17,37 persen).

Secara terpisah Sekertaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja mengatakan, pihaknya terus berupaya menumbuhkan wirausaha kecil dan menengah di bidang kelautan dan perikanan.

Sjarief mencontohkan, saat ini wirausaha mikro di bidang pengolahan dan pemasaran berjumlah 63.000 orang dengan total omzet sekitar Rp. 650 miliar per tahun. Sekitar 80 persen kontribusi penghasilan berasal dari komoditas berbahan ikan laut dan rumput laut. (LKT)

Sumber: Kompas, Rabu (4 September 2013), Halaman 18

%d blogger menyukai ini: