Siaran Pers

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA)

ASEAN People Forum (APF) 2019

KIARA DESAK MASYARAKAT ASEAN MELAWAN PROYEK REKLAMASI DI ASIA TENGGARA

Jakarta, 13 September 2019 – Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) terlibat menjadi peserta aktif di dalam pertemuan, ASEAN People Forum (APF) 2019 yang diselenggarakan di Thammasat University, Provinsi Phatum Thani, Thailand. Event ini merupakan forum tahunan masyarakat sipil yang rutin diselenggarakan di negara-negara Asia Tenggara guna merespon berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Forum ini dihadiri oleh lebih dari 1000 orang peserta yang berasal dari berbagai elemen masyarakat di negara-negara Asia Tenggara, diantaranya: Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, dan Timor Leste.  Selain itu, hadir pula sejumlah duta besar dari beberapa negara ASEAN sekaligus terlibat di dalam diskusi dengan seluruh peserta APF 2019.

Di dalam kesempatan ini KIARA menyampaikan isu mengenai pentingnya perlindungan nelayan beserta ekosistem pesisir-laut dari berbagai ancaman aktivitas ekstraktif serta eksploitatif, seperti reklamasi pantai yang kini dilakukan di sejumlah  negara anggota ASEAN.

Menurut Sekretaris Jenderal KIARA, Susan Herawati, desakan untuk melindungi nelayan serta ekosistem laut ini didasari oleh sejumlah hal berikut: pertama, kawasan Asia Tenggara merupakan kawasan laut dengan 5.060.180 km persegi memiliki sumberdaya perikanan yang sangat tinggi. Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) 2018, negara-negara ASEAN merupakan 10 besar produsen perikanan tangkap dunia, yaitu Indonesia sebanyak 6.107.783 ton; Vietnam sebanyak 2.678.406 ton; Filipina sebanyak 1.865.213 ton; dan Malaysia sebanyak 1.574.443 ton.

“Dengan angka sebesar ini, produksi perikanan di negara-negara ASEAN terbukti dapat memenuhi kebutuhan konsumsi perikanan dunia. Fakta ini membuktikan bahwa negara-negara ASEAN memiliki peran penting untuk menjaga pangan dunia,” kata Susan Herawati. 

Kedua, Kawasan Asia Tenggara merupakan “rumah” bagi lebih dari 50 juta nelayan yang bekerja menangkap, mengolah dan menjual ikan. Dengan kata lain, sektor perikanan berhasil menghidupi puluhan juta orang sekaligus menyediakan lapangan kerja yang layak. “Sektor perikanan sangat berhubungan erat dengan hidup matinya perekonomian seluruh keluarga nelayan di seluruh Asia Tenggara,” tambah Susan.

Namun, pada saat yang sama nelayan-nelayan di Asia Tenggara menghadapi persoalan serius, yaitu industri ekstraktif yang mengancam ekosistem laut dan berpotensi merampas ruang hidup mereka. “Saat ini nelayan-nelayan di Indonesia, Malaysia, dan Filipina menghadapi ancaman serius proyek reklamasi pantai,” tutur Susan.

Susan menjelaskan reklamasi pantai di Indonesia tercatat sebanyak 41 proyek telah memberikan dampak buruk bagi lebih dari 700.000 keluarga nelayan; di Malaysia sebanyak 5 proyek telah memberikan dampak buruk bagi lebih dari 5.000 keluarga nelayan; dan di Filipina sebanyak 14 proyek telah berdampak buruk bagi 100.000 keluarga nelayan (tabel 1).

Tabel 1. Data reklamasi di Asia Tenggara dan dampaknya terhadap nelayan

Nama negara Jumlah proyek reklamasi Jumlah keluarga nelayan terdampak
Indonesia 41 lokasi Lebih dari 700.000
Filipina 14 lokasi Lebih dari 100.000
Malaysia 5 lokasi Lebih dari 5.000

 

Sumber: Pusat Data dan Informasi KIARA (2019)

Berdasarkan hal tersebut, KIARA mengajak seluruh masyarakat di negara-negara ASEAN untuk melawan proyek reklamasi di Asia Tenggara. “Tak hanya itu, kami mendesak negara-negara Anggota ASEAN untuk menolak proyek reklamasi yang tidak dibutuhkan oleh nelayan di Asia Tenggara,” tegas Susan.

Ke depan, KIARA bersama dengan seluruh elemen masyarakat di Asia Tenggara akan terus terlibat di dalam perlawanan terhadap proyek reklamasi ini. “Kami akan terus melawan proyek ini bersama masyarakat pesisir Asia Tenggara,” pungkasnya. (*)

Informasi lebih lanjut:

Susan Herawati, Sekretaris Jenderal KIARA +62 821-1172-7050