Bibit Ikan menjadi Simbolik Pembukaan Festival Bahari Tahun ke-2 oleh UNIKA dan KIARA

Sumber: Tim Media KIARA

Kedaulatan pangan laut masih menjadi ancaman. Nelayan dan Pesisir masih berteriak memerlukan kesejahteraan. Gemboran solusi dari pemerintah masih belum tersalurkan. Pertanyaan bagaimana kehidupan esok masih tebal terdengar. Berbagai upaya telah dilakukan, wadah berdialog bersama ahli menjadi salah satu solusi. Seperti Festival Bahari, tempat berdialog dan menemukan solusi bersama nelayan dan masyarakat.

Festival Bahari 2025 yang di gelar oleh Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Soegajapranata (UNIKA) Semarang bersama Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA). Pembukaan ini berlangsung di kampus UNIKA Bukit Semarang Baru (BSB) Kecamatan Mijen, Kota Semarang, pada Selasa (25/11/2025).

Kegiatan dibuka dengan simbolik penyerahan bibit ikan oleh Dekan FTP UNIKA (Dr. Inneke Hantro, S.TP.,.Sc.), Dekan FITL (Benediktus Danang Setianto, S.H.), dan Sekjend KIARA (Susan Herawati Romica). Dalam sabutannya, Beny selaku Dekan FITL mengungkapkan kekhawatirannya akan fakta pesisir seperti impor garam yang dilakukan Idonesia yang faktanya Indonesia adalah negara ke-2 dengan garis pantai terpanjang. Lalu, fakta bahwa profesi nelayan di Indonesia dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menduduki kategori profesi miskin dengan presentase 25%,

“Sayangnya, dengan garis pantai yang panjang, kita masih impor garam. Padahal lautnya banyak. Dari kebutuhan 4,8 Ton Garam per tahun, Indonesiea baru memproduksi baru sekitar 2,5 Ton. Mustinya kita bisa lebih. Kalau dari profesi nelayan dan perikanan yang tercatat dalam BPS kita, Industri perikanan menyumbangkan 25% angka kemiskinan. Data-Data tersebut tentu sangat memprihatinkan,” ungkapnya.

Dekan Fakultas Ilmu Teknologi dan Lingkungan (FITL) UNIKA ini juga mengajak masyarakat untuk siap bergerak untuk pesisir,

“Data-Data tersebut harus membuat kita tergugah, kita harus bergerak lebih banyak lagi mengikuti gerak pesisir. Dan pesisir kita, sayangnya juga banyak dihancurkan oleh tindakan kita sendiri,” tambahnya.

Tajuk yang diusung Festival Bahari tahun ini ialah ‘Menemukan Solusi Krisis Iklim: Pengorganisasian Ekonomi Guna Mewujudkan Kedaulatan Pangan Laut untuk Keberlanjutan Komunitas Nelayan dan Pesisir’. Melalui tajuk tersebut, Festival Bahari ingin menemukan solusi dari krisis iklim untuk mewujudkan kedaulatan dan kesejahteraan pangan, nelayan, dan pesisir.

Sekjend KIARA, Susah Herawati mengungkapkan solusi kedaulatan pagan laut adalah dari masyarakat pesisir, nelayan, dan perempuan nelayan itu sendiri bukan dari janji palsu pemerintah yang seperti angin lalu,

“Kita ga butuh karbon trading, kita ga butuh marine protected area, kita ga butuh 30×30. Kenapa? Karena solusi yang paling nyata itu adalah ada di gerakan mereka. Mereka itu tau cara nanam mangrove. Jadi solusi yang paling bagus itu di mereka, lewat agroekologi yang dilakukan mereka. Kemudian gerakan ekonomi rakyat lewat koperasi dan lain-lain, kemudian cara mereka melakukan konservasi dengan pengetahuan mereka, itu udah cukup. Yang selalu disajikan oleh negara adalah solusi palsu sebenarnya,” tuturnya.

Festival Bahari tahun ini digelar pada tanggal 25-26 November 2025. Pada hari pertama, Festival Bahari berlangsung lancar yang dimulai dari rangkaian Talkshow I: gelar wicara mengenai pengelolaan wilayah pesisir dan laut, kemudian Workshop I: pengolahan produk berbasis ikan dan prinsip pengemasan, dan Pameran Foto oleh pemuda mengenai cerita pesisir. Selain itu, Festival Bahari hari pertama juga menyajikan Bazar Ikan Laut, Diskusi dari Pameran, Workshop II mengenai teknologi pengeringan, serta Lomba Menggambar Anak-Anak.  

Dengan persiapan 1-2 bulan, para peserta dari 7 Desa Pesisir di Jawa Tengah sangat siap untuk menyiapkan acara dan berhasil menampilkan perkembangan mereka dari tahun sebelumnya yang sudah mengikuti Festival Bahari. Desa-desa yang hadir pada pagi hari ini yakni Balong, Gempolsewu, Morodemak, Purworejo, Kepulauan Karimun Jawa, Bandungharjo, dan Timbulsloko. Masing-masing desa menjajakan produk olahan pesisir dari tangan mereka sendiri.

“Tahun ke 2 ini, persiapannya 1-2 bulan. Yang menariknya di Festival Bahari kali ini, karena mereka sudah pernah di tahun sebelumnya jadi mereka lebih siap sebenarnya. Setelah Festival Bahari yang pertama dan mendapatkan ilmu dari temen temen SCU UNIKA, mereka sekarang jadi ada improving dan perubahan. Produknya mulai cantik-cantik, mulai beragam,” jelas Susan Herawati selaku sekjend Kiara.

Ia juga menambahkan, harapan dari kegiatan ini sebagai momen untuk merajut hubungan antara para nelayan dengan masyarakat anak generasi muda. Ia juga berharap, ke depannya semakin banyak akademisi atau pihak pendidikan yang bersedia membantu para korban kerasnya pesisir,

“Harapannya, festival bahari mampu merajut antara para produsen pangan (nelayan/ perempuan nelayan), orang orang yang menggantungkan hidupnya di laut bisa bertemu dengan masyarakat umum, anak anak muda. Yang kemudian tidak lupa akademisi, kampus, pihak-pihak pendidikan itu menjadi hal yang penting, karena tentu tantangan itu bisa di minimalisir risiko nya, kalau kita itu merajut gerakan ini dengan akademisi.”

 

Penulis: Sabrina Gita Salsabella